JUDUL
SKRIPSI : MAJAS YANG TERDAPAT DALAM LIRIK LAGU ALBUM UNTUK KITA RENUNGAN KARYA
EBIET G ADE
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang dan masalah
1.1.1
Latar Belakang
Karya
sastra kreatif berbentuk puisi mengalami perkembangan dalam cara penyampaiannya
mulai dari mantra, syair, pantun hingga berkembang menjadi lirik lagu yang
menghasilkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan
keindahan. Bentuk kreasi yang indah itu disampaikan ke tengah-tengah masyarakat
sebagai wadah penuangan informasi dan pemikiran yang mampu mendorong serta
menimbulkan proses perkembangan emosional pendengar.
“Lirik
lagu merupakan karya sastra (puisi) berisikan curahan perasaan pribadi sekalipun,
atau susunan kata sebuah nyanyian” (Depdiknas, 2005:678). Lirik lagu termasuk
kedalam karya sastra kreatif imajinatif. Daya kreatif akan menimbulkan
kreatifitas pengarang dalam menghasilkan karya-karya baru berupa lirik-lirik
lagu baru. Kreativitas itu juga tidak bisa lepas dari daya imajinatif
seseorang(pengarang). Daya imajinatif tersebut akan menghasilkan karya yang
estetis, menarik dan penuh daya khayal.”ciri sastra imajinatif adalah karya
sastra tersebut lebih banyak bersifat khayali, menggunakan bahasa yang
konotatif, dan memenuhi syarat-syarat estetika seni”(Sumardjo,1991:71).
Kegiatan
kreatif yang berakar kuat dari kemampuan pikiran dan perasaan, bekerja balas
membalas dengan kegiatan imajinati. Imajinasi mendesak kreativitas (tindakan
untuk berkarya) sedangkan kreativitas mendesak imajinasi (tindakan untuk
membuat pembayangan dan gambaran batiniah lebih dari sekedar realitas). Daya
imajinasi mempunyai potensi untuk menjangkau suatu rekonstruksi lebih dari
sekedar yang ada, dan kreativitas selalu mencoba melahirkan sesuatu melebihi
dari apa yang telah dibuat oleh hasil tindakan jasmani dan rohani manusia, maka
hasil kegiatan kreatif imajinatif mempunyai potensi yang besar untuk
menghasilkan karya estetis (Hamidy,1983:10).
Lirik
lagu (puisi) merupakan karya yang estetis yang mengandung nilai
Puitis.
Kepuitisan sebuah lirik lagu (puisi) dapat dilihat dari penggunaan diksi
ataupun gaya bahasanya.
Puisi sebagai karya seni itu puitis.
Kata puitis sudah mengandung keindahan yang khusus untuk puisi. Disebut puitis
bila hal itu membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan
yang jelas, secara umum bila hal itu menimbulkan tanggapan yang jelas, secara
umum bila hal itu menimbulkan keharuan disebut puitis(Altenbern dalam
Pradopo,2007:13).
Dalam
lirik lagu banyak ditemukan bahasa kiasan yang disebut juga dengan majas “Majas,kiasan,atau figure of speech adalah bahasa kias, bahasa indah yang dipergunakan
untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan
suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum” (Dale
dalam Tarigan, 1993:179).
Penggunaan
makjas tertentu dapat mengubah serta menimbulkan nilai rasa atau konotasi
tertentu. Pemakaian majas dalam sebuah lirik lagu akan menjadikan sebuah lagu
menarik, penuh daya khayal membangkitkan suasana dan kesan tertentu,
membangkitkan tanggapan indra tertentu, dapat memperhalus kata dan menimbulkan
efek kepuitisan. Pemakaian majas dalam lirik lagu akan menimbulkan efek
kepuitisan layaknya sebuah puisi.
“Bahasa
bermajas adalah bahasa yang mempergunakan kata-kata
yang
susunan dan artinya sengaja disimpangkan dari susunan dan arti biasa dengan
maksud mendapatkan kesegarab dan kekuatan ekspresi” ( Sudjiman dalam
Hasanuddin,2002:133). Majas itu sendiri adalah peristiwa pemakaian kata yang
maknanya tidak menunjuk pada makna harfiahnya, melainkan pada makna yang
ditambahkan atau makna tersirat (Hasanuddin , 2002:133).
Penulis
tertarik pada seorang seniman Yogyakarta yang notabenes
seorang
penyair sekaligus penyanyi yang memusikalisasikan puisinya tersebut. Abid
Ghofar bin Aboe Dja’far atau yang lebih dikenal dengan Ebiet G Ade. Pria
kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah 21 April 1955 yang merupakan suami dari
Yayuk Sugianto dan ayah dari keempat putra dan putri (Abie,Dera,Yayas dan
Dega). Ebiet dikenal masyarakat sebagai seorang penyani yang menyajikan lirik yang
sangat puitis dan ini menjadi ciri khas Ebiet. Dalam sebuah blog menuliskan,
meski bisa membuat puisi, ia (Ebiet) mengaku tidak bisa apalagi diminta sekedar
mendeklamasikan puisi. Dari ketidakmampuannya membaca puisi secara langsung
itu, Ebiet mencari cara agar tetap bisa membaca puisi dengan cara yang lain,
tanpa harus berdeklamasi. Caranya, dengan menggunakan musik, musikalisasi
puisi, begitu istilah yang digunakan dalam lingkungan kepenyairan.
Terlahir
dengan nama Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far di Wanadadi, Banjarnegara merupakan
anak termuda dari 6 bersaudara, anak Aboe Dja’far, seorang PNS, dan Saodah,
seorang pedagang kain. Dulu ia memendam banyak cita-cita, seperti
insinyur,dokter,pelukis. Semuanya melenceng, Ebiet malah jadi penyanyi kendati
ia lebih suka disebut penyair karena latar belakangnya di dunia seni yang
berawal dari kepenyairan.
Nama
Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus bahasa Inggris sesama SMA. Gurunya
orang asing, biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena mereka mengucapkan A
menjadi E. Terinspirasi dari tulisan Ebiet di bagian punggung kaos merahnya,
lama-lama ia sering dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Nama ayahnya digunakan
sebagai nama belakang, disingkat AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi
penyebutannya, Ebiet G Ade. Kalau dipanjangkan ditulis sebagai Ebiet Ghoffar
Aboe Dja’far.
Pria
yang lebih senang disebut sebagai penyair itu, semula hanya menyanyi dengan
berkonser di Jawa Tengan dan DIY, memusikalisasikan puisi-puisi dan hanya menganggapnya
sebagai hobi belaka. Namun atas dorongan para sahabat dekatnya akhirnya Ebiet
bersedia juga maju ke dunia belantika musik Nusantara.
Ebiet
dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok
tesisih. Pada awal karirnya, ia memotret suasana kehidupan Indonesia di akhir
tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta
tetapi ada juga lagu-lagu bertemakan alam,
sosial,politik,bencana,relijius,keluarga dan lain-lain. Sentuhan musiknya
sempat mendorong pembaharuan pada dunia musik pop Indonesia. Semua lagu
ditulisnya sendiri, ia tidak pernah menyanyikan lagu yang diciptakan orang
lain.
Ebiet
sangat piawai dalam mengolah lirik yang ia buat sehingga menjadi sebuah lagu
yang indah.Lagu-lagu yang di ciptakan oleh ebiet sangat pekat dengan nuansa
balada dan memiliki kekuatan pada makna-makna yang di hasilkan,mungkin karena
ebiet seorang seniman sehingga suasana yang tercipta mampu mempengaruhi
pendengar yang tanpa disadari mempengaruhi perasaan.Motivasi terbesar yang
membangkitkan kreatifitas penciptaan karya-karyanya adalah ketika bersahabat
dengan Emha Ainun Nadjib(penyair),Eko Tunas(cerpenis),dan E.H
Kartanegara(Penulis).Malioboro menjadi semacam rumah bagi Ebiet ketika kiprah
kepenyiarannya diolah,karena pada masa itu banyak seniman yang berkumpul di
sana.
Banyak
orang yang terbawa suasana yang di hasilkan oleh petikan dawai gitar dan
ketajaman makna yang terkandung dalam lagu yang mengalun begitu indah,tidak
hanya kalangan seprofesi Ebiet yang mengakui kepiawaiannya tersebut tetapi juga
masyarakat luas mulai dari kalangan orang tua hingga kalangan remaja pun
mengagumi kecerdasan Ebiet dalam mengolah kata menjadi sebuah lirik lagu Yang
tak perlu di ragukan lagi,ini patut di acungkan jempol sebab lagu Ebiet G Ade
mampu menembus batas momen tanpa mengalami penurunan nilai keindahan sehingga
mengantarkannya sebagai legendaris.Banyak penghargaan yang Ebiet peroleh
diantaranya sebagai berikut:
·
18 Golden dan Platinum
Record dari Jackson Record dan label lainnya dari album Cmellia I hingga Isyu!
·
Biduan Pop kesayangan
PUSPEN ABRI (19769-1984)
·
Pencipta Lagu
Kesayangan Angket Musica Indonesia(1980-1985)
·
Penghargaan Diskotek
Indonesia (1981)
·
10 Lagu Terbaik
ASIRI(1980-1981)
·
Penghargaan Lomba Cipta
Lagu Pembangunan(1987)
·
Penyanyio Kesayangan
Siaran Radio ABRI(1989-1992)
·
BASF Awards(1984-1988)
·
Penyanyi solo dan
balada terbaik Anugerah Musik Indonesia (1997)
·
Lagu Terbaik AMI Sharp
Award (2000)
·
Planet Muzik Award dari
Singapura (2002)
·
Penghargaan Lingkungan
Hidup (2005)
·
Duta Lingkungan Hidup
(2006)
·
Penghargaan Peduli
Award Forum Indonesia Muda (2006
·
Sejumlah Penghargaan
dari berbagai lembaga independen.
Penulis
tertarik meneliti tentang penggunaan majas dalam lirik lagu album Untuk Kita
Renungkan karena liriknya lagu Ebiet G Ade merupakan karya seni yang kreatif
dan bernilai tinggi.Nilai kreatifitas itu dapat dilihat dari segi bahasa yang
digunakan.Unsur bahasa yang digunakan dapat dilihat dari penggunaan majas yang
dapat menimbulkan konotasi tertentu.Makna konotasi merupakan makna yang tidak
mengacu kepada hal atau benda yang menjadi referennya,makna tersebut mengandung
pesan dan pengertian yang tersirat. Kepuitisan lirik lagu Ebiet G Ade tidak
terlepas dari kemampuannya menggunakan gaya bahasa khususnya gaya bahasa kias
(majas). Karya-karya Ebiet G Ade yang sarat dengan nilai kepuitisan selalu
diminati oleh pecinta musik Indonesia, meskipun kebanyakan pendengar sulit
memahami makna lirik lagu yang dengan kiasan.
Selain
itu, album Untuk Kita Renungkan ini
juga mempunyai keistimewaan tersendiri yaitu lagu-lagu dalam album ini mampu
menjadi bahan perenungan bagi kita sesuai dengan nama albumnya Untuk Kita Renungkan. Lagu-lagu dalam
album ini membuka tabir tentang fenomena berbagai permasalahan manusia dan juga
berisi tentang ke Agungan Tuhan sebagai penguasa atas semua ciptaannya.
Sehingga dengan mendengarkan lagu-lagu dalam album ini mampu membuka kesadaran
kita untuk dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Lirik
yang diguratkan dan dinyanyikan sendiri oleh Ebiet G Ade ini menyeruak
dimana-mana, baik itu digelombang radio maupun lewat gambar dilayar kaca
beberapa tahun belakangan ini. Hal ini beriringan dengan merebaknya berbagai
bencana alam yang terjadi di negeri tercinta. Mulai dari bencana tsunami di
Serambi Mekkah,gempa bumi,banjir,dan malapetaka lainnya. Lirik lagu yang
dikarang oleh Ebiet G Ade dalam album Untuk
Kita Renungkan berisi presan-pesan moral yang dituangkan dengan pilihan
kata dan gaya bahasa yang indah.
Penelitian
tentang karya Ebiet G Ade pernah diteliti oleh Yosefri Okria (2010) FKIP UR
yang membahas tentang Analisis Semiotik Pada Lirik Lagu Ebiet G Ade. Pada
penelitiannya objek yang diteliti yatu lirik lagu dalam album Best of The Best. Selain itu, Nuril
Kusniyah (2010) dari FKIP UMM juga pernah meneliti karya Ebiet G Ade yang
membahas tentang Analisis Struktur Batin Syair Lagu Ebiet G Ade Pada Album Bahasa Langit. Jadi, penelitian yang
peneliti lakukan bukanlah penelitian lanjutan melainkan penelitian baru karena
peneliti meneliti tentang analisis majas dalam lirik lagu album Untuk Kita Renungkan karya Ebiet G Ade.
Dalam hal ini nampaklah perbedaan dari segi subjek dan objek penelitian.
Selain
itu, penelitian tentang majas atau gaya bahasa sudah pernah diteliti oleh
peneliti sebelumnya diantaranya (1) Putri Intan (2005) FKIP Unri dengan judul
Analisis Gaya Bahasa pada Puisi dalam Kumpulan Cahaya Maha Cahaya karya Emha
Ainun Nadjib. Hasil penelitiannya ditemukan beberapa gaya bahasa yaitu
personifikasi,hiperbola,metafora,repetisi,ekslomasio,antiklimaks,litotes. (2)
Yetiningsih (2009) FKIP UIR dengan judul Gaya Bahasa Pantun yang terdapat pada
Adat Perkawinan Masyarakat Melayu di Desa Sei. Tohor Tebing Tinggi Bengkalis
karya Mukhtar WH. Hasil penelitian yang dilakukan adalah ditemuinya gaya bahasa
litotes, hiperbola, metafora, alegori, paradoks, antiklimaks, polisidenton,
intervensi dan ironi. Akan tetapi, penelitian ini mempunyai perbedaan dari
penelitian sebelumnya. Perbedaan ini dapat dilihat dari objek yang diteliti,
objek penelitian sekarang adalah tentang lirik lagu.
Dengan
adanya penelitian ini diharapkan akan bermanfaat baik secara teoritis maupun
praktis. Secara teoretis penelitian ini, dapat memberikan suatu sumbangan
pemikiran yang bermanfaat bagi dunia pendidikan, yaitu dalam pengajaran sastra.
Secara teoretis penelitian ini adalah menerapkan dan memperdalam pengetahuan
penulis tentang gaya bahasa khususnya majas.
1.1.2
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang dibahas adalah penggunaan
majas dalam lirik lahu album Untuk Kita
Renungkan karya Ebiet G Ade. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka
penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Majas
apa sajakah yang terdapat dalam lirik lagu album Untuk Kita Renungkan karya Ebiet G Ade ?
2. Apa
makna majas yang terdapat dalam lirik lagu album Untuk Kita Renungkan karya Ebiet G Ade?
1.2
Tujuan
Penelitian
Penelitian ini
bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis majas serta menentukan makna majas yang
terdapat dalam lirik lagu album Untuk
Kita Renungkan karya Ebiet G Ade.
KESIMPULAN
Lirik
lagu (puisi) merupakan karya yang estetis yang mengandung nilai
Puitis.
Kepuitisan sebuah lirik lagu (puisi) dapat dilihat dari penggunaan diksi
ataupun gaya bahasanya. Puisi sebagai karya seni itu puitis. Kata puitis sudah
mengandung keindahan yang khusus untuk puisi. Disebut puitis bila hal itu
membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas,
secara umum bila hal itu menimbulkan tanggapan yang jelas, secara umum bila hal
itu menimbulkan keharuan disebut puitis (Altenbern dalam Pradopo,2007:13).
Penggunaan
majas tertentu dapat mengubah serta menimbulkan nilai rasa atau konotasi
tertentu. Pemakaian majas dalam sebuah lirik lagu akan menjadikan sebuah lagu
menarik, penuh daya khayal membangkitkan suasana dan kesan tertentu,
membangkitkan tanggapan indra tertentu, dapat memperhalus kata dan menimbulkan
efek kepuitisan. Majas itu sendiri adalah peristiwa pemakaian kata yang
maknanya tidak menunjuk pada makna harfiahnya, melainkan pada makna yang
ditambahkan atau makna tersirat (Hasanuddin , 2002:133).
Abid
Ghofar bin Aboe Dja’far atau yang lebih dikenal dengan Ebiet G Ade. Pria
kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah 21 April 1955 yang merupakan suami dari
Yayuk Sugianto dan ayah dari keempat putra dan putri (Abie,Dera,Yayas dan
Dega). Ebiet dikenal masyarakat sebagai seorang penyani yang menyajikan lirik yang
sangat puitis dan ini menjadi ciri khas Ebiet. Lirik yang diguratkan dan
dinyanyikan sendiri oleh Ebiet G Ade ini menyeruak dimana-mana, baik itu
digelombang radio maupun lewat gambar dilayar kaca beberapa tahun belakangan
ini, Pada penelitiannya objek yang diteliti yatu lirik lagu dalam album Best of The Best. Selain itu, Nuril
Kusniyah (2010) dari FKIP UMM juga pernah meneliti karya Ebiet G Ade yang
membahas tentang Analisis Struktur Batin Syair Lagu Ebiet G Ade Pada Album Bahasa Langit.
ENDAH SURYATI KHAIRYAH